Lupakan sejenak soal pilih memilih tema blog ini. Tadi pagi tepatnya mulai pukul 09:00 s/d 13:00 saya mengikuti seminar Migrasi Open Source yang dipandu oleh Pak Rusmanto Maryanto, wakil ketua AOSI (Asosiasi Open Source Indonesia). Menarik dan tidak ada habisnya memang membicarakan soal kesadaran HaKI di Negeri tercinta ini, Gaung IGOS (Indonesia Go Open Source) pun sayup sayup terdengar di tengah-tengah masyarakat awam pada umumnya. Lalu bagaimana nasib Free Open Source Software (FOSS) di Indonesia…???
Masa Depan Free and Open Source Software (FOSS) di Indonesia?
Januari 19th, 2010 § dikomentari : 68
Pelatihan dan Lomba Menulis Artikel Blog
Mei 26th, 2009 § dikomentari : 17
Menyambut Grand Launching deBlogger yang akan diadakan pada hari Minggu tanggal 31 Mei 2009 di Area Stage Friday Jazz Margo City Depok, Komunitas Blogger Depok mengadakan kegiatan Pelatihan dan Lomba Menulis Artikel Blog khusus untuk pelajar SMA/SMK/MA Kota Depok.
Anak-anak’ku sedang Ujian Nasional
April 21st, 2009 § dikomentari : 15
BismiLLahi aRRohman aRRohim…
Loh kok anak-anak’ku ndri..? Emang dah punya anak yach? Ya! Saya seneng nyebutnya demikian, lebih akrab, lebih dekat, lebih bersifat kekeluargaan, walaupun kalau dilihat dari umur, seumuran saya mana mungkin dah punya anak yang udah tingkat 12 SMK? hehee
Belajar menjadi “Makmum” yang baik, sebelum menjadi “Imam” yang baik
Februari 18th, 2009 § dikomentari : 17
BismiLLahi aRRohman aRRohim…
Tulisan ini terinspirasi saat berdiskusi ringan setelah mengajak salah satu teman kerja ãñÐrî untuk sholat di masjid (masih berkaitan dengan Resolusi 2009). Pada waktu itu (blm lama sih sebenernya) sambil berjalan ke Masjid ãñÐrî berbincang dengan teman kira-kira begini :
- ãñÐrî : “Yuk sholat ke masjid, didepan komputer berlama-lama aja betah, jalan kemasjid kan cuma sebentar”
- temen : “Ntar dulu ahh ndri, rasanya bajunya dah ga enak, perasaan kotor”
- ãñÐrî : “Tapi bukan najis kan?”
- temen : “(tersenyum kecil)”
- ãñÐrî : “Ayolahhhh, siapa lagi yang mau mengisi masjid tercinta kita kalo bukan orang-orang yang dekat”
- temen : “(masih tersenyum dan masih duduk didepan komputernya)”
- ãñÐrî : “Yuk, ruangan bisa dikunci dulu… toh ndak bakalan digondol kucing ruangannya (sambil tersenyum juga)”
- temen : “(sambil berjalan ringan, meninggalkan pekerjaannya di komputer)”
- ãñÐrî : “(sambil berjalan juga, mengimbangi temen yang berjalan agak didepan… sambil merangkul pundaknya) gitu dong pak **** Gimana bisa menjadi Imam yang baik kalau belum bisa menjadi Makmum yang baik”
- temen : “Heheee… iya juga, boleh juga tuh teorinya”
- ãñÐrî : “dan bukan cuma teori pak, harus dipraktek’kan… Kalau mau jadi Imam yang baik, ya harus bisa jadi Makmum yang baik dulu”
- temen : “Iya, sebenernya niat sih ada… tapi ya gitu, pelaksanaannya kadang terbengkalai”
(percakapan terputus sampai sini, karena sudah mendekati masjid)
Belajar memaknai Kebebasan
Februari 16th, 2009 § dikomentari : 14
BismiLLahiRRohmaniRRohim…
Fenomena yang terjadi beberapa tahun terakhir ini (tentunya setelah mata ãñÐrî mulai terbuka lebar dalam memandang dunia) yang banyak terjadi disekitar kita, tidaklah jarang (bahkan terlalu sering) kita menemukan kata-kata BEBAS. Adalah pergaulan bebas, sex bebas, bebas berbicara, bebas berpendapat, bebas berorasi, bebas berekspresi, kebebasan pers, kebebasan menorehkan tulisan dalam blog, dan lain lain. Tapi apakah kita masih bisa memaknai apa arti dari sebuah kebebasan…?
Kadang kita menemui kawula muda entah itu laki-laki maupun wanita yang mengatakan begini :
- “Ahhh kalo dirumah ada bokap gue ga bisa bebas…!”
- “Wahhh enak juga yah kalo ngekost, gue bisa bebas tanpa pantauan bonyok…!”
- “Asyik ga ada dosen, hari ini kita bebasss…!”
- “Kalo disini mah bebas, mau ngapain aja silahkan…!”
- “Gue pengen bebas, ga ada tekanan, ga ada kekangan dari siapapun kapanpun…!”
Juga kata-kata bebas yang lainnya yang kadang / sering dikeluarkan oleh anak muda jaman sekarang.
Atau juga [yang telah melewati melewati mudanya] kadang berpendapat :
- “Sekarang kan era reformasi, jadi kita bisa bebas berbicara, berpendapat, berekspresi, berorasi, dll”
- “Biarin anak saya saya bebasin aja, biar kreatif”
- “Kan sekarang sudah zamannya kebebasan pers”
- “Blog blog saya ini, mau saya isiin apa aja terserah saya dong”
Jadi apa makna kebebasan kalau begitu…?
