Belajar menjadi “Makmum” yang baik, sebelum menjadi “Imam” yang baik
18 Feb 2009
Catatan, Pendidikan andri, belajar, imam, makmum, pemimpin 17 Komentar
BismiLLahi aRRohman aRRohim…
Tulisan ini terinspirasi saat berdiskusi ringan setelah mengajak salah satu teman kerja ãñÐrî untuk sholat di masjid (masih berkaitan dengan Resolusi 2009). Pada waktu itu (blm lama sih sebenernya) sambil berjalan ke Masjid ãñÐrî berbincang dengan teman kira-kira begini :
- ãñÐrî : “Yuk sholat ke masjid, didepan komputer berlama-lama aja betah, jalan kemasjid kan cuma sebentar”
- temen : “Ntar dulu ahh ndri, rasanya bajunya dah ga enak, perasaan kotor”
- ãñÐrî : “Tapi bukan najis kan?”
- temen : “(tersenyum kecil)”
- ãñÐrî : “Ayolahhhh, siapa lagi yang mau mengisi masjid tercinta kita kalo bukan orang-orang yang dekat”
- temen : “(masih tersenyum dan masih duduk didepan komputernya)”
- ãñÐrî : “Yuk, ruangan bisa dikunci dulu… toh ndak bakalan digondol kucing ruangannya (sambil tersenyum juga)”
- temen : “(sambil berjalan ringan, meninggalkan pekerjaannya di komputer)”
- ãñÐrî : “(sambil berjalan juga, mengimbangi temen yang berjalan agak didepan… sambil merangkul pundaknya) gitu dong pak **** Gimana bisa menjadi Imam yang baik kalau belum bisa menjadi Makmum yang baik”
- temen : “Heheee… iya juga, boleh juga tuh teorinya”
- ãñÐrî : “dan bukan cuma teori pak, harus dipraktek’kan… Kalau mau jadi Imam yang baik, ya harus bisa jadi Makmum yang baik dulu”
- temen : “Iya, sebenernya niat sih ada… tapi ya gitu, pelaksanaannya kadang terbengkalai”
(percakapan terputus sampai sini, karena sudah mendekati masjid)
Dari percakapan ringan itu, ãñÐrî terinspirasi untuk menuliskannya ke blog ini, karena setelah dipikir-pikir hal tersebut mungkin gak cuma bisa diterapkan dalam hal sholat berjamaah, tapi bisa juga diterapkan pada kehidupan sehari-hari, entah dalam keluarga… pekerjaan… sekolah… kampus… masyarakat… dan lain-lain.
Seorang Ayah yang baik biasanya dulunya berasal dari anak, dan tentu saja anak yang baik. Seorang Pimpinan yang baik biasanya dulunya berasal dari anak buah, dan tentu saja anak buah yang baik. Seorang Guru / Dosen yang baik biasanya dulunya berasal dari murid / mahasiswa, dan tentunya murid / mahasiswa yang baik. Seorang RT, Lurah, Walikota, Kepala Daerah, Gubernur bahkan Presiden yang baik dulunya juga seorang Rakyat biasa, dan mudah-mudahan adalah Rakyat yang baik.
Berhubung media massa sedang gencar-gencarnya kampanye, dan sudah dekatnya Pemilihan Umum baik Legislatif maupun Presiden… ãñÐrî punya pendapat seperti ini :
Tidak mungkin seorang Rakyat yang “Baik”, memilih Pemimpin yang “Tidak Baik”
Maka sebagai “Makmum” yang baik, mari kita pilih “Imam” yang baik…!
Juga… mari Belajar menjadi “Makmum” yang baik, sebelum menjadi “Imam” yang baik…
-----
Search keyword for this article : IMAM YANG BAIK ~ menjadi imam yang baik ~ belajar jadi imam ~ menjadi imam keluarga ~ BELAJAR MENJADI IMAM ~ menjadi imam yang baik bagi keluarga ~ imam yang baik dalam keluarga ~ menjadi imam dalam keluarga ~ menjadi imam yang baik di keluarga ~ makna imam dalam keluarga ~ menjadi imam yang baik dalam keluarga ~ imam sholat yang ideal ~ belajar menjadi imam dalam keluarga ~ sepatutnya makmum yang pilih imam bukan imam pilih makmumnya ~ tata cara menjadi imam yang baik dalam rumah tangga ~ seorang imam yang baik ~ seoarang pria yang baik jadi makmum bagi keluarganya ~ sebelom aku menjadi imam ~ panduan menjadi makmum ~ pengertian imam dan makmum ~ mencari imam yang baik ~ belajar mejadi imam ~ belajar untuk jadi imam yang baik ~ cara jadi imam dalam keluarga ~ cara jadi makmum yg benar ~ cara menjadi imam dalam keluarga ~ cara menjadi imam sholat dalam keluarga ~ cara menjadi seorang imam dalam berkeluarga ~ ciri ciri imam rumah tangga yang baik ~ imam dalam keluarga ~ imam yang baik untuk keluarga ~

Feb 18, 2009 @ 22:22:11
Komentar pertama dari ãñÐrî dehhh, tanpa menutup kemungkinan juga adanya sebuah proses, proses perubahan berusaha menjadi orang yang baik. Mari belajar bersama…
Feb 18, 2009 @ 23:14:03
Assalamu’alaikum Wr Wb
Maaf ya Nak aku nggagu,
Masalahnya Andri, sekarang susah sekali membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik. Diluarnya begitu mulus eee…didalamnya “boleng”
Aku juga sangat berharap bisa menjadi “makmum” yang baik, maupun “imam” yang baik, dalam kehidupanku. Tapi saya selalu merasa belum bisa menjadi makmum yang baik, apalagi imam yang baik.
Wallohualam….
Aku hanya bisa mengatakan ” Semoga Alloh mengabulkan harapan itu..”
Wassalamu’allaikum Wr Wb
Feb 18, 2009 @ 23:37:30
Sepakat ndri..
Aku rasa juga begitu, namun ditengah derasnya budaya instan saat ini, hal-hal mendasar ini jadi terkesan ‘subversif’ kala disampaikan..
Namun bagaimanapun juga, setiap thesis selalu harus ada antithesisnya.
Semoga kian banyak kesadaran seperti ini yang bisa terlaksana,
amin
Feb 19, 2009 @ 00:20:56
“Maka sebagai “Makmum” yang baik, mari kita pilih “Imam” yang baik…!”
setuju sama quote diatas, Imam yang baik pastinya berasal dari seorang Makmum yang sudah dengan benar memilih seorang Imam yang baik. ibaratkan pepatah buah jatuh pasti tidak jauh dari pohonnya…
Feb 19, 2009 @ 00:45:36
bisaan euyy nulisnya, topik yg baguss , lanjut trus oommm…semangaddd
Feb 19, 2009 @ 07:28:10
Nya lah tiasaan nyeratna, panuju wae lah kanggo eyeuna mah, moal waka ngarespon tema na, nuju lalungse pisan
Feb 19, 2009 @ 11:54:43
setuju, p’andry
tulisan ini khusus buat cowok ja, atau cewek juga? kan, cewek gak wajib solat di masjid.
Feb 19, 2009 @ 15:16:44
Assalaamu’alaykun Warahmatullaahi Wabarokaatuh…
Sip mas Andri…;-),jadi gak sabar pengen cepet pulang biar bisa sholat jamaah lagi:-).
Feb 20, 2009 @ 01:09:26
Assalamu’alaikum warohmatullohi Wabarokatuh…
Bismillah,
eHmm, hehe.. *senyum dulu*
Yup, teori menjadi makmum yang baik sebelum menjadi imam yang baik patut dibungkus, dan semoga bukan hanya teori sahaja, Amin.
menurut yg a2i3s dapatkan *mudah-mudahan dijauhkan dari segala prasangka buruk dan hawa nafsu serta tipu daya syetan laknatullah, amin* Sholat adalah miniatur dalam kehidupan. Jadi jelas, siapa imam, siapa makmum, jelas pula aturan tentangnya. Imam jelas mengetahui siapa makmumnya dan makmum pun jelas mengetahui imamnya, walaupun bisa saja ngga mengenalnya secara langsung, namun seperti layaknya sholat ada aturan/hukum yang jelas ihwal penetapan imam.
mari kita sama-sama menjadi makmum yang baik sebelum menjadi imam yang baik kelak, setidaknya menjadi imam bagi diri sendiri dan keluarga, Amin ya Allah.
Ya Allah, Semoga kami senantiasa diberi petunjuk kepada jalanMu yang Haq, dan bermakmum pada aparatMu yang Haq pula, Amin ya Allah…
Feb 20, 2009 @ 07:32:07
Assalamu Alaikum Wr.Wb. yang saya tahu ndri, seorang laki2 klo tdk ada halangan seharusnya sholat berjamaah di mesjid apabila mendengarkan adzan, bahkan sy pernah baca bahwa beberapa ulama menetapkan bahwa sholat jamaah utk laki2 itu hukumnya fardu ain. jadi ?? marilah kita sama2 berusaha utk selalu sholat di mesjid secara berjamaah. hehehe. Postingan yg bagus, saling mengingatkan. (salah satu resolusi sy jg di 2009 jg, ikut sholat jamaah di mesjid/mushollah )
Feb 20, 2009 @ 22:33:20
Quote saya yang begini bunyinya: “You can’t be a good leader, if you can’t be a good subordinate” mirip dengan tulisan ini.
Artinya kalau ingin jadi seorang pemimpin baik di mata Alloh, keluarga, dan rakyatnya.. jadilah anak buah yang baik. So when he’s being a leader, he knows how to handle every subordinate’s aspirations as he ever felt it before.
Well done bro.
Feb 21, 2009 @ 00:38:23
Kampung saya bener2 aneh mas! di ujung gang paling timur, itu rumah pak imam, di ujung barat, ada mushola…
Hopo tumon, musholane yang penuh makmum ning kulon lha kok imame nang wetan??? Sholate madhep kemana???(doh)
Feb 22, 2009 @ 05:42:36
setuju!!
bisa juga seperti ini, anak yang tidak baik, bisa jadi menjadi ibu/bapak yang tidak baik… begitu juga sebaliknya.. semoga kita menjadi anak yang baik, sehingga bisa jd ibu/bapak yang baik
Feb 24, 2009 @ 07:12:11
ika harus bisa….
dan tetep berharap moga tar ika bisa segera mendapatkan imam yang baik heee…
Feb 24, 2009 @ 17:51:29
Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh . . Alhamdulillah selama ini berusaha menjadi makmum yang baik karena saya muslimah Dan tentu saja hanya seorang ikhwan shaleh yang akan ana pilih untuk menjadi Imam. Keshalehan seorang Imam bukan pada menjalankan shalat saja tapi manakala mendirikan shalat dan itu akan nampak. Tablik Amanah Jujur akan menjadi cermin seorang Imam yang baik Insya Allah anDri dan juga Ikhwan sekalian mampu menjadi Imam bukan saja pada saat menjalankan shalat. Dari ana hamba Allah yang berusaha menjadi makmum yang baik muslimah yang kaffah Amiin
Apr 08, 2009 @ 14:39:42
Assalamu’alaikum.W.W.
Baru2 ini saya melakukan kudeta imam sholat di mushola pasar tempat saya mengais rizki. Berbulan-bulan telah memikirkan bgmna harus bertindak.
Kasusnya begini:
Di mushola pasar tempat kerjaku setiap jamaah sholat dhuhur hampir setiap hari diimami oleh pak Fulan(alias), sedangkan profesinya seorang pemodal mandiri, alias Ribawi, alias Potang, alias Mendring, alias Renten.
Hati tak tenang sholat jadi tdk khusyuk, mgp saya diimami oleh seorang pelaku riba. Smoga Allah mengampuni saya dan menjauhkan dr riya’ sholat.
Bukankah ribawi sangatlah berdosa, dalam petikan sebuah hadits : Riba ada 70 macam cara sedangkan dosa paling ringan dari riba sama dengan dosa bersetubuh dengan ibu kandung. Subhanallah.
Maka dg pertimbangan itu saya tlh lakukan kudeta imam sholat dengan dtg lbh awal ke mushola pasar dan duduk tpt di belakang sajadah imam, kmdn sgra menempati tempat imam dan memimpin sholat dhuhur.
Ini pengalaman saya pribadi, sekali lagi semoga Allah meridhoi. Wassalam.W.W.
Apr 11, 2009 @ 02:41:02
Wa’alaikumsalam WarohmatuLLohi Wabarokatuhu…
Wahhh mas susanto, kalau dari sisi agama saya kurang tau secara tepatnya. Tapi kalo menurut saya pribadi, memang sih untuk kekhusyuk’an sholat berjamaah, kita harus terlebih dahulu menyukai imamnya, entah dari perilaku, bacaan, dll.
Mudah-mudahan tindakan mas susanto mendapatkan pahala dan diridhoi oleh Alloh… Amin…
Semoga kebaikannya dibalas dengan kebaikan yang lebih
Oct 16, 2009 @ 13:23:13
salam kenal aja.. infonya sangat menarik